Ranasa

0616 Juni Kembali Baswara.

Pada arunika. 0616
Seorang wanodya yang derana
Berteriak dalam aksara.

Hari ini, mendatang kemudian pergi. Terlewatkan namun menghampiri. Bertambah dalam mengurungi.
Semua telah dilalui tanpa berdiri pada kulminasi kebahagiaan yang amerta.

Pada arunika. 0616
Kini sedang meraki mimpi. Didalam nayanika memantulkan secercah asa. Bersenandika demi menggapai yang tertancap di sanubari.

Pada arunika. 0616
Kini beranjak pergi, menduduki angka yang telah tertepati. Meninggalkan kata yang tak ber_asa lagi. Telah ejawantah menjadi sesosok yang kirana dan jatmika. Berjalan lah seluas saujana. Jangan berhenti pada titik jenggala yang mengurung kebebasan yang bisa hadir khayalan.

Pada arunika. O616
Bertahan.
Tepis gulita yang mencoba menghalang.
Jadilah sandyakala. Jadilah maharani trengginas yang bisa menggoyangkan dirgantara. Jangan gulana tentang usia. Buat lah eunoia, jadikan hari peringatan awal sebagai tanda bahwa 061697 tidak akan pernah risak.
Selamat 061697-061622

--

--

Asmaraloka adirwana ketika aku bertemu kirana
Nama yang tersanjung dalam setiap litani.
Memberhenti seruan renjana.
Aksara berhenti berbisik diantara dersik gempita.
Tersanjung pancarona yang kamu suguh.

Senandiku ingin memeluk senyummu.
Bernaung dalam kisah nyanyian pilu dan sorai.
Dari berbagai eunoia bersatu dalam nayanikamu.
Berharap desir hati ini menjadi ejawantah.

Sanubari hendak meraki tentang nuraga
Tanpa risak mimpimu.

--

--

Agustus pergi

Bagaimana gelap mencoba terang kalau cahaya bulan dihalang mendung.

Dan….!!!!

Bagaimana hati ini bisa kau miliki, sedangkan agustus telah pergi tapi kau tak ingat, agustus adalah tempat hadir pertama kali.

Sudah….!!!

Sekarang September datang.

Selamat tinggal Agustus yang tidak hadir alarm pengingat

--

--

Mula Baru

Why……!!!

Gelap itu bisa menerangkan aku, padahal lampu-lampu tak cukup dekat.

Why……!!!

Pertemuan itu mengundangku untuk bertemu kembali?

And Why ……!!!

Kita yang berjarak, mulai terasa dekat.

Kita yang diam mulai terasa bicara.

Kita yang jarang mulai terasa rapat.

Kita yang tak tetap mulai terasa menetap

Kita yang hambar mulai terasa beragam

Kita yang acuh mulai ingin menyatu.

Why…..!!!

Mataku ingin melihatmu

Telingaku ingin mendengarmu

Ya… wangi itu. Ingin kuletak disampingku.

--

--

Peluk Ragu

Aku tidak mau berpacaran, banyak hal yang menjadi sarang kekhilafan.

Aku juga tidak mau kehilangan, karena kau adalah penerang.

Aku juga tidak punya cukup kesiapan, banyak hal yang masih dipertanggung jawabkan.

Aku cuma yakin kepada Tuhan

Kalau Tuhan akan memberi kemudahan jalan, ketika waktu itu datang. Namun itu membuatmu bimbang.

Kalau berkata sayang. Sangat sayang.

Kalau berkata cinta lebih dari cinta.

Tapi lagu apa yang patut aku nyanyikan. Sehingga aku bisa menetapkan pilihan.

Dan nada apa yang harus aku gunakan. Sehingga itu membuat mu tenang. Dan tidak takut akan namanya kepergian.

--

--

Sewaktu beriuh siputih juni, di balik ruang bertabir cermin

Bererangan tangis seorang juni

Yang disambut manis sang pemuja kasih.

Detik awal si juni, merajut hidup menjadi seni

Menotasi bunyi mewujud cita hati

Mengundang inspirasi dari setiap pejalan duniawi

Menarik empati sosok yang selalu mengagumi

Simata pimpong 16 juni

Kini telah berani meneriak mimpi, dalam gelap

Telah melempar belati memecah sunyi

Mengundang cahaya menakluk penat yang gagal dihuni

Simungil juni

Kini telah beranjak dari sebuah perangkat keras

Melunak batas yang membenteng gerak.

Siimut juni

Kini telah tumbuh melabrak ruang dimensi

Mengisi hari-hari dengan senyuman lepas disela bibir

Menanam tradisi menjadi segudang benih pribadi

Siimut juni

Sekarang menjadi sesosok wanita yang kuat dari basah pipi

Setelah menggapai usia dini

Sekarang juni bertambah umur yang dilalui

Sekarang mengulang tahun untuk yang sekian kali.

Selamat untuk juni.

Terus berkarya dari hasil lentik jari

--

--